Acetylcysteine, Efek Samping dan Pencegahannya

Acetylcysteine adalah sebuah obat yang mana penggunaannya sangat perlu arahan atau dosis yang dianjurkan oleh dokter maupun apoteker. Seperti halnya semua obat, tentu di sini acetylcysteine juga menimbulkan efek samping. Dalam artikel kali ini akan diulas mengenai Apa efek sampingnya yang ditimbulkan oleh obat yang satu ini.

Apa Efek Samping dari Acetylcysteine?

 

Semua obat di sini tentunya memiliki resiko menimbulkan efek samping, tak terkecuali juga di sini yaitu acetylcysteine. Sebagian besar dari efek samping tersebut termasuk ringan dan memang tak semua orang akan mengalami efek samping yang ditimbulkan.

Namun jika Anda di sini mengalami masalah kesehatan yang cukup mengganggu setelah memakai obat tersebut, maka perlu untuk menghubungi dokter. Berikut ini adalah efek samping yang dapat ditimbulkan akibat pemakaian acetylcysteine, meliputi :

  1. Kesulitan bernafas atau mengalami sesak dada.
  2. Mengalami rasa mual dan muntah.
  3. Lengket yang ada di sekitar wajah.
  4. Bercak putih atau luka yang terdapat di mulut atau di area bibir.
  5. Sakit tenggorokan, demam dan pilek.

Jika di sini Anda mengalami alergi parah terhadap obat tersebut, maka segeralah untuk mencari pertolongan medis. Gejala alergi bisa berupa kesulitan bernafas, gatal-gatal, pembengkakan pada area wajah, bibir, lidah ataupun tenggorokan.

Tidak semua orang akan mengalami efek samping ketika memakai obat tersebut. Mungkin juga terdapat beberapa efek samping lainnya yang memang belum disebutkan di atas. Bila Anda mempunyai kekhawatiran mengenai efek samping yang ditimbulkan oleh obat ini, maka perlu untuk mengkonsultasikan pada apoteker ataupun dokter.

Pencegahan dan Peringatan

Agar tidak menimbulkan efek samping, maka di sini Anda perlu memperhatikan penggunaan acetylcysteine, antara lain :

  1. Untuk Anda yang memiliki asma bronkial, maka harus dipantau karena ditakutkan terjadi bronkospasme. Jika memang hal tersebut terjadi, maka pengobatan perlu segera di stop.
  2. Bagi Anda yang memiliki asma bronkial akut, maka pemakaian produk dengan sediaan aerosol bisa memperburuk batuk tersebut.
  3. Penggunaan awal acetylcysteine bisa mencairkan sekresi bronkus dan secara bersama-sama meningkatkan volumenya. Jika nanti pasien tidak mampu untuk meludah, maka perlu untuk membersihkan saluran udara menggunakan drainase postural ataupun memakai bronchosuction untuk menghindari retensi sekresi.
  4. Untuk pemakaian bronchosuction yang ditujukan pada anak-anak, Anda perlu menanyakan dosis tepatnya pada dokter.
  5. Obat ini dapat menyebabkan rasa kantuk pada sebagian besar orang, karena itu hindari mengemudi atau mengoperasikan alat-alat berat sesaat setelah Anda mengonsumsi obat ini.
  6. Informasikan pada dokter Anda mengenai obat-obatan yang saat ini tengah Anda pakai, baik itu obat resep, obat herbal ,nonresep dan juga suplemen. Hal tersebut dikarenakan beberapa jenis obat mungkin bisa berinteraksi dengan asetilsistein.
  7. Beritahukan pada dokter jika Anda mempunyai riwayat alergi pada obat-obatan tertentu, terutama di sini untuk obat asetilsistein atau bahan-bahan lainnya yang terkandung di dalam obat tersebut.

Mengenai apakah asetilsistein cukup aman digunakan oleh ibu hamil serta menyusui, hal tersebut sampai saat ini masih belum ada penelitian lebih lanjut. Oleh karena itu selalu mengkonsultasikan pada dokter Anda tentang potensi resiko serta manfaat sebelum akhirnya memutuskan untuk memakai obat tersebut.

Asetilsistein masuk dalam kategori B untuk resiko kehamilan menurut Food and Drug Administration yang berpusat di Amerika atau setara dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang ada di negara Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.